Krisis Ekonomi atau Krisis Pikiran???

Situasi ekonomi tidak menentu, krisis dimana mana, nilai saham dan reksadana hancur, bunga bank naik, penjualan properti menurun, proyek real estate macet, rupiah melemah, daya beli menurun, PHK mulai terjadi, banyak pabrik tutup, bahkan katanya ……. bakal ada kerusuhan sosial seperti th’98???

Itulah berita berita dan pembicaraan yang anda dapatkan dari mass media dan teman teman anda akhir akhir ini. Semuanya serba negatif dan melemahkan energi kita.

Apakah benar situasinya seperti itu? Mungkin sebagian besar dari kita akan mengatakan, “Ya iyalaaah…..sudah jelas kenyataannya demikian, kok masih nanya…..buta kaleee”. Kenyataan yang mana ya??? Kenyataan yang ada di TV, di Radio, di Koran, di majalah, atau di gossip sehari hari. Apakah benar itu kehidupan yang sedang kita jalani saat ini???

Sekarang mari kita lihat, lebih jauh lagi. Bukankah sudah merupakan fenomena kehidupan ini, ada naik, ada turun, ada susah, ada senang, ada untung, ada rugi. Sebenarnya itu semua kan sudah satu paket dengan kehidupan kita. Tidak mungkin dalam hidup ini, kita maunya untung melulu, naik melulu, senang melulu, menang melulu, rugi melulu, turun melulu, susah melulu, atau kalah melulu.

Jika kita refleksikan kehidupan ini, bukankah situasi ini selalu berulang dalam kehidupan kita, krisis ekonomi akan selalu terjadi di dunia ini, krisis pun selalu terjadi dalam hidup kita pribadi, sejak kita kecil, dan akan selalu terjadi sampai krisis besar terjadi, yaitu kematian. Itu hukumnya mutlak, dunia selalu berubah, perubahan itu adalah abadi.

Jadi kalau kita sekarang sedang untung, bersiaplah untuk rugi, kalau kita sekarang sedang naik, bersiaplah untuk turun, kalau kita sekarang sedang berkuasa, bersiaplah untuk lengser. Dan sebaliknya juga, kalau kita sekarang sedang susah, bersiaplah untuk senang, kalau kita sekarang sedang turun, bersiaplah untuk naik, kalau kita sekarang sedang kalah, bersiaplah untuk menang, kalau kita sekarang sedang rugi, bersiaplah untuk untung, situasi akan selalu berubah, tidak ada yang kekal.

Sebenarnya dalam situasi sekarang ini yang disebut “situasi krisis”, bagi orang yang mengerti fenomena kehidupan, bukanlah sebuah krisis, tapi sebuah proses yang harus dihadapi. Setelah gelap, biasanya apa?? Timbullah terang. Setelah turun, biasanya apa?? Naik. Setelah “krisis”, biasanya apa??…..anda sudah tahukan jawabannya.

Nah sekarang, kalau kita sudah tahu, bahwa itu semua adalah sebuah fenomena kehidupan, yang kita harus hadapi. Kenapa mesti kuatir? Kenapa mesti strees, depresi?? bahkan ada yang sampai bunuh diri lho…..guuoblook buangeet deh. Dengan mengetahui ini adalah sebuah fenomena, sebuah hukum alam yang harus kita hadapi, kita sebenarnya harus selalu Sadar, “Aware”, “Eling” kalo orang Jawa bilang.

Dengan selalu meningkatkan kesadaran kita, “awareness” kita, kita tidak akan mudah diombang ambingkan oleh situasi yang terjadi dalam kehidupan. Kita tidak mudah terhanyut dalam euphoria kemenangan, maupun dalam kesedihan dan kekalahan sesaat. Karena pada waktu menghadapi sebuah situasi, kita selalu sadar, kita selalu tahu, bahwa “ahh ….inipun akan segera berlalu”

Jadi semua kuncinya ada dalam diri kita, bagaimana kita mau menghadapinya, bagaimana kita mau menyikapinya? Semua kuncinya ada di pikiran kita.

Salah seorang guru kehidupan saya mengatakan demikian “Kebahagiaan itu sebenarnya tidak ada…….nah lo……., yang ada hanyalah perasaan bahagia, senang itu tidak ada, yang ada adalah perasaan senang, susah itu tidak ada, yang ada adalah perasaan susah, krisis itu tidak ada, yang ada adalah …….perasaan krisis”. Kalau kita menganalisa pernyataan tersebut, perasaan itu adanya dimana sih? Didalam diri kita kan, diri kita siapa yang kontrol? Kita sendiri, pikiran kita sendiri. Jadi sebenarnya, mudahkan….., tinggal kita pilih saja cara kita berpikir dan merasa, mau berpikir dan merasa ini jaman krisis, susah, strees atau….. berpikir dan merasa inilah saatnya banyak peluang, semangat, senang, dll.

Seperti pepatah mengatakan “Hidup adalah pilihan” semuanya ada ditangan kita, tinggal kita yang menentukan. So….let’s choose our choice, and it’s all about to control our mind.

Joe Hartanto